Yogyakarta – Bulan Mei selalu menjadi penanda penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Pada bulan inilah lahir Ki Hajar Dewantara, tokoh yang kemudian dikenang sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tanggal kelahirannya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) karena jasanya merintis sistem pendidikan nasional, mendobrak diskriminasi kolonial, serta menanamkan fondasi pendidikan karakter yang memerdekakan manusia.
Untuk mengenalkan nilai-nilai tersebut sejak usia dini, TK ABA Kleco menggelar kegiatan bertajuk Semarak Hari Pendidikan Nasional (Si Pena). Program ini dirancang berkesinambungan agar anak-anak tidak sekadar mengenal tokoh pendidikan, tetapi juga meneladani semangat belajar dan karakter yang diwariskan Ki Hajar Dewantara.
Rangkaian kegiatan Si Pena diawali dengan berbagai lomba yang diselenggarakan pada Senin, 3 Mei 2026, di RTHP Prenggan. Lomba-lomba tersebut melibatkan aktivitas individu dan kelompok. Melalui kegiatan ini, anak-anak dikenalkan pada kerja sama tim, strategi sederhana, serta sportivitas dalam bermain.

Kegiatan berlanjut dengan pembuatan karya bertema Ki Hajar Dewantara. Guru mendampingi anak-anak menuangkan imajinasi mereka dalam bentuk gambar dan kerajinan. Metode ini dipilih agar sosok Ki Hajar Dewantara lebih melekat dalam ingatan anak, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap pendidikan dan semangat untuk terus belajar.

Puncak kegiatan Si Pena ditandai dengan outing class berupa ziarah dan tabur bunga di pusara Ki Hajar Dewantara yang berada di Taman Wijaya Bratha. Di lokasi tersebut, anak-anak dipandu oleh Ki Sumanto untuk mendengarkan kisah perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara. Mereka juga diajak mengamati relief di area makam yang menggambarkan perjalanan hidup sang tokoh, sejak masa kanak-kanak hingga akhir hayatnya.

Sebagai penutup, anak-anak diberi kesempatan untuk berdoa dan menabur bunga sebagai simbol penghormatan dan rasa terima kasih kepada Bapak Pendidikan Nasional.

Salah satu wali murid, Nuning Martanti, menilai kegiatan ini memberi pengalaman belajar yang bermakna. “Anak-anak tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga merasakan langsung semangat Tut Wuri Handayani. Mereka jadi lebih paham arti pendidikan karakter,” ujarnya. Wali murid lainnya menambahkan, kegiatan tersebut mampu menumbuhkan wawasan kebangsaan dan rasa hormat kepada guru sejak dini.
Melalui Si Pena, TK ABA Kleco berharap pendekatan pembelajaran kontekstual dan dekat dengan pengalaman anak ini dapat menginspirasi sekolah lain untuk menghadirkan pendidikan yang lebih hidup, menarik, dan berakar pada nilai-nilai kebangsaan. (Luh,Tri)













